Adu Keislaman Capres Joko Widodo Serta Prabowo Subianto

Adu Keislaman Capres Joko Widodo Serta Prabowo Subianto – Segi keislaman capres Joko Widodo serta Prabowo Subianto jadi sorotan selama kontes Pemilihan presiden 2019.

Terakhir La Nyalla Matalitti menuding Prabowo tidak mempunyai pandangan Islam yang baik. Ia bahkan juga menyebutkan Ketua Umum Gerindra itu tidak miliki nyali untuk pimpin salat.

Prabowo lalu menanggapi tuduhan mantar kadernya yang tidak berhasil maju Pilgub Jawa timur itu dengan menjelaskan dianya lebih memprioritaskan ulama atau pemuka agama menjadi imam salat.

“Saya tidak bisa saja imam salat. Ya saya terasa tahu diri. Benar. Yang jadi imam ya mesti orang yang tambah tinggi ilmunya,” kata Prabowo waktu berpidato di Pertemuan Nasional Partai Gerindra di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (17/12).

Alih-alih bergerak ke rumor lainnya, Jokowi malah seakan tunjukkan mempunyai pandangan mengenai Islam yang lebih baik. Hal tersebut terlihat dari ketetapan Istana Presiden yang mempublikasikan photo Jokowi pimpin salat sehari sesudah Prabowo mengakui lebih memprioritaskan ulama menjadi imam.

Dalam photo, Jokowi tengah jadi imam salat saat ada di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, Jawa Timur, Selasa (18/12). Mereka sebagai makmum salah satunya Seskab Pramono Anung, Ketua umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua DPP PKB Abdul Kadir Karding, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Direktur Charta Politica Yunarto Wijaya memandang rumor mengenai segi keislaman tokoh nasional bukan perihal baru. beradu pamer ketaatan beragama beberapa profil publik itu telah jadi gorengan sekurang-kurangnya pada Pemilihan presiden 2014 yang lalu.

Perihal yang memperbedakan, kata Yunarto, bila dahulu Prabowo yang menguasai menyerang keislaman Jokowi, sekarang tampak tim petahana berusaha menyerang balik masalah pandangan agama yang dipunyai Prabowo.

“Ini lanjutan dari politik jati diri pada 2014 yang seringkali menyerang pribadi atau keislaman Jokowi. Saat ini jadi senjata makan tuan. Prabowo yang terserang segi keislamannya,” papar Yunarto waktu dihubungi, Kamis (20/12).

Langkah yang ditempuh Jokowi yaitu dengan tunjukkan dengan eksplisit atau gamblang jika dianya mempunyai pandangan Islam yang lebih baik. Photo mengenai Jokowi pimpin salat ialah salah satunya perumpamaannya.

Yunarto yakini strategi tim Jokowi mengobral photo pimpin salat adalah langkah untuk menyerang Prabowo. Akan tetapi itu bukan bermakna tim Jokowi ingin beradu di rumor politik jati diri. Yunarto memandang ada tujuan lainnya yang ingin diraih, yaitu mengubah rumor politik jati diri tersebut.

“Memakai senjata yang sama, yakni jati diri atau senjata makan tuan barusan, tetapi targetnya membuat pihak lawan berhenti memakai amunisi bernama politik jati diri,” kata Yunarto.

Menurut Yunarto, langkah itu telah mulai terlihat akhirnya. Yunarto mengacu dari klarifikasi-klarifikasi yang disampaikan timses Prabowo.

Tim sukses Prabowo selanjutnya dibikin repot ajak segi materi perbincangan yang berlainan, bukan kembali masalah keislaman calon presiden semasing.

“Contohnya saat tim sukses Prabowo mempermasalahkan mengapa bawa serta masalah pribadi, keluarga, mengapa tidak ekonomi saja dan lain-lain,” papar Yunarto.

Walau demikian, kata Yunarto, bukan bermakna tim sukses Prabowo akan berhenti mainkan rumor politik jati diri. Rumor itu menurut dia selalu dimainkan, akan tetapi akan alami pergeseran, tidak bergelut pada segi keislaman.

Yunarto menjelaskan politik jati diri yang dimainkan setelah itu akan dihubungkan dengan kebijaksanaan pemerintah. Ia menyebutkan hal tersebut telah mulai terlihat dalam beberapa waktu paling akhir.

“Contoh, rezim saat ini pro asing serta aseng, dikotomi poros Beijing serta Mekkah. Itu jadi kampanye SARA yang efisien yang beralih variabel dari mengkritik keislaman jokowi,” kata Yunarto.

Yunarto lalu mengacu rumor keislaman itu ke ranah elektoral semasing calon presiden. Ia menjelaskan akan berlangsung stagnansi. Tidak ada kenaikan serta penurunan kepopuleran Jokowi serta Prabowo bila rumor keislaman selalu dimainkan.

Bagaimana tidak, saat Prabowo ingin mainkan rumor keislaman rivalnya, malah Jokowi tunjukkan sikap yang condong melawan balik. Kampanye hitam jadi tidak manjur dikerjakan.